diposkan pada : 17-03-2020 16:11:09 Merindukan beribadah di masjidil haram

Rindu Melaksanakan Ibadah di Masjidil Haram

 

                        Sub-ḥānallażī asrā bi'abdihī lailam minal-masjidil-ḥarāmi ilal-masjidil-aqṣallażī bāraknā ḥaulahụ linuriyahụ min āyātinā, innahụ huwas-samī'ul-baṣīr

Suara Imam terdengar sangat tartil dan indah saat membacakan ayat pertama QS. Al Isra. Hati saya tergetar.

Ayat ini merupakansalah satu favorit saya. Karena berisi tentang keutamaan Masjidil Aqsha yang diberkahi.

Saya pandangi Ka'bah yang ada di depan mata. Shalat tahajud, lantas dilanjutkan menunggu adzan hingga shalat Subuh ini rasanya lebih khusuk, karena Allah terasa sangat dekat.

Saya bersyukur sekali pagi ini bisa shalat Subuh di tempat Mathaf atau area tempat thawaf yang serupa di sekeliling Ka'bah.

Awalnya saya ragu mengambil posisi shalat di sini, sebab ketika umrah akhir tahun lalu, tempat Mathaf tidak boleh digunakan untuk shaf perempuan. Semua perempuan harus shalat di Mushala Annisa atau tempat shalat khusus perempuan yang dibatasi dengan rak-rak Alquran. Sehingga sulit sekali bisa shalat sambil menatap Ka'bah tanpa penghalang.

Kalau tetap bandel mengambil posisi di tempat Mathaf, menjelang adzan, biasanya askar perempuan akan "mengusir" supaya pindah tempat ke Mushola Annisa.

Waktu itu sebagian tempat Mathaf sedang ditutup untuk pembangunan perluasan Masjidil Haram. Sehingga ada pengaturan yang ketat untuk kelancaran jamaah yang sedang thawaf. Syukurlah pembangunannya tahun ini sudah selesai dan tempat Mathaf boleh digunakan lagi untuk shaf perempuan.

Usai salam, sambil berdoa saya pandangi Multazam dari kejauhan. Terbayang sebanyak jam lantas saya terombang-ambing bersama derasnya arus manusia untuk bisa menderaskan doa di dinding bawah pintu Ka'bah.

"Mb Uttiek masuk, Mb!" seru Ustadz Dedi yang membukakan jalan. Tadi saya thawaf sunah 2/3 malam tanpa Lambang, karena dia sedang sakit perut.

Bergegas saya mendekat. Karena sudah sebanyak kali melakukannya, saya sudah paham "trik-nya" guna dapat mendekat sampai menempel tembok Multazam.

Jangan melawan arus. Ikuti saja gelombang manusianya. Nanti kamu akan terbawa mendekat. Suasana memang tidak tidak sedikit dramatis, sebab tidak sedikit wanita dan orangtua yang menangis. Namun kuatkan hati sambil terus memohon, "Allahumma yassir wa la tuassir -Ya Allah mudahkanlah, jangan dipersulit."

"Sini Ibu," tiba-tiba tangan saya ditarik seorang perempuan. Ruang di depan saya yang sebelumnya padat manusia mendadak kosong. Dua langkah, tubuh saya sudah menempel di Multazam. Saya telungkupkan kedua telapak tangan, merasai dinding suci tempat segala doa diijabah ini.

Lidah saya kelu kehilangan kata-kata. Semua doa yang sudah saya siapkan tiba-tiba lenyap dari kepala. Yang tersisa hanya rasa penyesalan yang mendalam atas segala dosa. Saya tergugu sampai sesak nafas.

"Wafatkan aku dalam keadaan husnul khotimah. Terima aku di surgaMu yaa Rabb," melulu tersebut doa yang dapat saya ucapkan berulang-ulang. Semua pinta menjadi tak lagi penting, kecuali Allah ridha atas surgaNya.

Gemuruh suara manusia di belakang saya mendadak senyap. Hanya ada saya dan Allahu Rabbi. Saya rasakan hangat dekapanNya. "Aku hambamu yaa Rabb. Yang datang dengan segala dosa."

Entah berapa menit saya berada di momen transendental itu, hingga kesadaran menyeruak, saya harus mengucap doa, "Yaa Raddad, yaa Raddad, urdudna illa Baitul Haram -Wahai Sang Maha Pengembali kembalikan aku segera ke rumahMu ini-."

Doa tersebut tidak jarang kali saya deraskan di tempat-tempat dan waktu mustajab. Malam ini terkumpul sebanyak keutamaan: doa di Multazam ijabah, doa di 2/3 malam ijabah, doa mushafir ijabah, doa di hari Jumat ijabah. "Ahrijna yaa Allah -kabulkan yaa Allah."

Adalah Ustadz Dedi Hariadi Hidayat yang mengenalkan saya pada thawaf sunah 2/3 malam sekian tahun lalu. Setelah tersebut laksana candu yang mustahil lepas. Setiap umrah saya sering kali mengagendakannya, selelah apapun hari itu.

Usai thawaf, lantas berdoa di dinding Multazam dan shalat di Hijir Ismail, lantas tahajud sambil menatap Ka'bah di keheningan malam dan menanti kumandang adzan Subuh.

Subhanallah....

Tak ada kata-kata indah yang lumayan guna mengungkapkannya.

Allah terasa sangat dekat, memeluk hangat, sambil membisikkan janjinya, "Fadzkuruni adzkurkum -berdoalah niscaya aku kabulkan."                        

 

Artikel lainnya »