ITINERARY PERJALANAN UMROH REGULER 9 Hari

Bekasi, Saco-Indonesia.com — Ribuan sopir angkutan umum sejumlah jurusan kembali melakukan aksi unjuk rasa di depan Terminal Lebak Bulus, tepatnya di Jalan Pasar Jumat, Cilandak, Jakarta Selatan,

Bekasi, Saco-Indonesia.com — Ribuan sopir angkutan umum sejumlah jurusan kembali melakukan aksi unjuk rasa di depan Terminal Lebak Bulus, tepatnya di Jalan Pasar Jumat, Cilandak, Jakarta Selatan, Senin (27/1/2014). Mereka berunjuk rasa setelah adanya kabar mengenai rencana penutupan terminal dalam kota di Lebak Bulus oleh pengurus terminal setempat.

Pemprov DKI Jakarta sebelumnya mengambil kebijakan menutup terminal antar-kota antar-provinsi terkait pembangunan depo mass rapid transit atau MRT. Kebijakan itu sempat ditolak oleh para pegawai perusahaan jasa bus. Kali ini giliran para sopir angkot dalam kota yang turun ke jalan untuk menolak penutupan terminal dalam kota.

"Ini gara-gara mau ditutup terminal dalam kotanya. Kita mengimbau Pak Gubernur saling menghargailah sama angkot di sini. Jangan ditutup semua," kata Endang (45), salah satu sopir angkutan umum nomor 106 rute Parung-Lebak Bulus, kepada Kompas.com di lokasi, Senin siang.

Endang mengatakan, aksi unjuk rasa tersebut dimulai sejak pagi tadi. Menurutnya, jumlah sopir yang mogok bekerja mencapai ribuan orang. Endang mengaku menerima kabar rencana penutupan terminal dalam kota itu dari pengurus terminal.

"Dari bagian dalam pengurus terminal, sama pengurus angkotnya. Karena mau ditutup, makanya sekarang kita pertahankan, jangan sampai ditutup semua," ujar Endang.

Berdasarkan pantauan Kompas.com, petugas kepolisian mulai berjaga di depan Carrefour Lebak Bulus untuk mengatur arus lalu lintas. Hingga berita ini diturunkan, para sopir masih melakukan aksi unjuk rasa. Meski hujan, para sopir masih memarkirkan angkotnya di depan terminal.

Sumber : Kompas.com

Editor :Maulana Lee

Setelah menjalani perawatan satu minggu di RS Atmajaya, Pluit, karyawati yang telah menjadi korban penusukan penjahat di Jalan Tiang Bendera, Roa Malaka, Kec. Tambora, akhirnya tewas.

Setelah menjalani perawatan satu minggu di RS Atmajaya, Pluit, karyawati yang telah menjadi korban penusukan penjahat di Jalan Tiang Bendera, Roa Malaka, Kec. Tambora, akhirnya tewas.

Tewasnya Lutfi Alfiatin yang berusia 20 tahun , telah menimbulkan kesedihan bagi keluarganya. Mereka juga berharap pelaku yang sudah ditangkap satu orang, dan lainnya buron dihukum seberat-beratnya.

Lutfi ditodong dua pria saat berjalan kaki pada Selasa (4/3) pukul 23.30 WIB, setelah lembur di tempat kerjanya, kawasan Kota, Jakarta Barat. Pelaku mengambil tas isi uang Rp200 ribu.

Tak mau tasnya berpindah tangan, korban melawan hingga membuat pelaku kesal dan menusuk perutnya. Usai menggasak tas korban, pelaku kabur ke arah Kota. Petugas Polsek Tambora yang menangani kasus ini menembak mati pelakunya yakni Heri Firmansyah, 26, dan Hilman, 23, ditembak di kaki.

Kapolsek Tambora, KOmpol Dedy Tabrani MSi didampingi Kanit Reskrim, AKP Widharma Jaya juga menyatakan, keluarga korban menolak jenazah diotopsi karena akan dibawa ke kampung halaman. “Kasusnya tetap kami proses karena masih ada satu pelaku yang dalam proses pemberkasan ke kejaksaan,” ungkapnya.

A former member of the Boston Symphony Orchestra, Mr. Smedvig helped found the wide-ranging Empire Brass quintet.

Photo
 
Many bodies prepared for cremation last week in Kathmandu were of young men from Gongabu, a common stopover for Nepali migrant workers headed overseas. Credit Daniel Berehulak for The New York Times

KATHMANDU, Nepal — When the dense pillar of smoke from cremations by the Bagmati River was thinning late last week, the bodies were all coming from Gongabu, a common stopover for Nepali migrant workers headed overseas, and they were all of young men.

Hindu custom dictates that funeral pyres should be lighted by the oldest son of the deceased, but these men were too young to have sons, so they were burned by their brothers or fathers. Sukla Lal, a maize farmer, made a 14-hour journey by bus to retrieve the body of his 19-year-old son, who had been on his way to the Persian Gulf to work as a laborer.

“He wanted to live in the countryside, but he was compelled to leave by poverty,” Mr. Lal said, gazing ahead steadily as his son’s remains smoldered. “He told me, ‘You can live on your land, and I will come up with money, and we will have a happy family.’ ”

Weeks will pass before the authorities can give a complete accounting of who died in the April 25 earthquake, but it is already clear that Nepal cannot afford the losses. The countryside was largely stripped of its healthy young men even before the quake, as they migrated in great waves — 1,500 a day by some estimates — to work as laborers in India, Malaysia or one of the gulf nations, leaving many small communities populated only by elderly parents, women and children. Economists say that at some times of the year, one-quarter of Nepal’s population is working outside the country.

Artikel lainnya »