saco-indonesia.com, Kubis adalah jenis sayuran yang paling mudah ditemui. Banyak masakan berbahan sayuran yang telah memasukkan

saco-indonesia.com, Kubis adalah jenis sayuran yang paling mudah ditemui. Banyak masakan berbahan sayuran yang telah memasukkan kubis di dalamnya. kubis juga kaya akan vitamin C yang sangat baik untuk dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh.

Selain manfaat tersebut, berikut adalah manfaat lain dari mengonsumsi kubis secara rutin bagi kesehatan :

Menurunkan berat badan
Setiap satu takaran saji kubis telah mengandung 33 kalori. Oleh karena itu kubis baik untuk dapat menurunkan berat badan.

Baik untuk kesehatan otak
Kubis juga kaya akan vitamin K dan anthocyanins yang dapat menyehatkan kondisi otak dan meningkatkan daya konsentrasi. Nutrisi ini juga dapat mencegah kerusakan saraf dan mengurangi resiko penyakit alzheimer.

Mempercantik kulit
Kandungan sulfur yang ada di dalam kubis baik untuk dapat membantu mengeringkan jerawat. Kubis juga telah mengandung keratin, zat protein yang diperlukan untuk dapat meningkatkan kesehatan rambut, kuku, dan kulit.

Membantu detoksifikasi tubuh
Tingginya kandungan vitamin C dan belerang di dalam kubis mampu untuk menghilangkan racun yang telah menjadi penyebab utama dari arthtiris, penyakit kulit, rematik, dan asam urat.

Mencegah kanker
Kubis juga mengandung senyawa lupeol, sinigrin, dan sulforaphane yang mampu untuk menghambat pertumbuhan tumor dan kanker. Sebuah penelitian telah menunjukkan bahwa wanita yang rajin mengonsumsi kubis akan memiliki resiko yang kecil untuk terkena kanker payudara.

Baik untuk kesehatan darah
Kandungan potasium yang tinggi membantu untuk dapat memperlebar aliran darah sehingga baik untuk sirkulasi darah.

Mengobati sakit kepala
Ternyata daun kubis juga dapat digunakan sebagai obat herbal untuk sakit kepala. Caranya adalah hancurkan daun kubis, bungkus dalam kain, dan oleskan sarinya di dahi Anda.

Kubis ternyata telah menyimpan banyak manfaat penting untuk kesehatan Anda. Oleh karena itu jangan ragu untuk dapat menambahkan kubis ke dalam menu makanan sehat Anda.


Editor : Dian Sukmawati

Salah satu sarana untuk menuju Haji Mabrur adalah memilih biro perjalanan haji yang bonafide, mau melayani jamaah haji dengan se

Salah satu sarana untuk menuju Haji Mabrur adalah memilih biro perjalanan haji yang bonafide, mau melayani jamaah haji dengan sepenuh hati, dan membimbing ibadah haji sesuai ajaran Nabi saw.

Trevel haji seperti itulah yang senantiasa dibutuhkan oleh para jamaah haji, sehingga ketika jamaah haji ingin melaksanakan ibadah, mereka bisa lebih khusyuk dan meresapi nilai-nilai ibadah.

Di antara sekian banyak biro trevel yang ada, yaitu Hikmah Sakti Perdana yang sudah berpengalaman dalam mengurusi jamaah haji dan umroh. Banyak paket-paket umroh yang ditawarkan kepada para jamaah.

Bagi yang ingin berhaji atauh umroh, dapat menghubungi kantor perwakilan Hikmah Sakti Perdana di: Pondok Pesantren Syafi’i Akrom, desa Jenggot Kota Pekalongan. Nomor kontak: 081542179705 (Yasir).

Sumber : http://ibadahhaji.wordpress.com

WASHINGTON — During a training course on defending against knife attacks, a young Salt Lake City police officer asked a question: “How close can somebody get to me before I’m justified in using deadly force?”

Dennis Tueller, the instructor in that class more than three decades ago, decided to find out. In the fall of 1982, he performed a rudimentary series of tests and concluded that an armed attacker who bolted toward an officer could clear 21 feet in the time it took most officers to draw, aim and fire their weapon.

The next spring, Mr. Tueller published his findings in SWAT magazine and transformed police training in the United States. The “21-foot rule” became dogma. It has been taught in police academies around the country, accepted by courts and cited by officers to justify countless shootings, including recent episodes involving a homeless woodcarver in Seattle and a schizophrenic woman in San Francisco.

Now, amid the largest national debate over policing since the 1991 beating of Rodney King in Los Angeles, a small but vocal set of law enforcement officials are calling for a rethinking of the 21-foot rule and other axioms that have emphasized how to use force, not how to avoid it. Several big-city police departments are already re-examining when officers should chase people or draw their guns and when they should back away, wait or try to defuse the situation

Pronovost, who played for the Red Wings, was not a prolific scorer, but he was a consummate team player with bruising checks and fearless bursts up the ice that could puncture a defense.

Artikel lainnya »