umroh juni

saco-indonesia.com, Bukan rahasia umum lagi jika akhir-akhir ini listrik sering mati mendadak karena ada pemadaman bergilir atau

saco-indonesia.com, Bukan rahasia umum lagi jika akhir-akhir ini listrik sering mati mendadak karena ada pemadaman bergilir atau karena ada kerusakan pada peralatan milik PLN yang telah diakibatkan faktor oleh cuaca. Seringkali pemadaman telah berlangsung dalam waktu yang cukup lama sehingga kita tidak dapat melakukan kegiatan apapun yang berhubungan dengan peralatan listrik baik di rumah maupun di kantor. Jika kegiatan tersebut hanya bersifat hiburan, kita tentu dapat menahan diri dan sedikit bersabar. Akan tetapi, jika kegiatan tersebut berhubungan dengan kegiatan bisnis, misalnya bisnis online dengan penggunaan komputer dan modem internet yang telah membutuhkan aliran listrik, maka kerugian yang akan ditanggung selama pemadaman tersebut bisa mencapai angka yang cukup besar.

Melayangkan pengaduan atau keluhan kepada PLN mungkin bisa dilakukan, akan tetapi solusi yang akan diharapkan belum tentu bisa cepat terealisasi terutama untuk masalah yang cukup besar. Hal iniliah yang membuat banyak orang telah memilih untuk membeli genset atau portable generator sebagai sumber energi listrik cadangan ketika aliran listrik tengah padam. Apa saja yang perlu diperhatikan sebelum kita membeli genset? Mari kita simak poin-poin penting berikut!

Tips Membeli Genset

    Menghitung seberapa besar daya yang akan kita butuhkan. Dengan penghitungan yang lebih baik, kebutuhan listrik kita juga akan tetap terpenuhi sekalipun kita tengah menggunakan genset. Kita juga dapat menghitungnya dengan memperhatikan alat-alat apa saja yang biasa kita gunakan di rumah seperti jumlah lampu, komputer, TV, lemari es, dan lain-lain. Jika ingin lebih mudah, kita hanya perlu memperhatikan kapasitas daya listrik yang telah kita miliki di rumah. Yang paling perlu diperhatikan adalah pemilihan genset dengan daya yang sama atau lebih besar dari yang telah kita miliki.
    Memperhatikan jenis genset berdasarkan bahan bakarnya. Pemilihan genset dengan bahan bakar yang berbeda mungkin tidak terlalu berpengaruh kepada jumlah biaya yang harus kita keluarkan untuk dapat membeli bahan bakar tersebut mengingat harga bensin dan solar relatif sama. Akan tetapi, pemilihan genset dengan memperhatikan jenis bahan bakarnya juga dapat memberikan kita petunjuk tentang besar kapasitas daya yang telah dihasilkan. Biasanya, genset dengan kapasitas besar (4000 watt ke atas). Oleh karena itu, anda dapat mengeliminasi pilihan ini jika anda membutuhkan genset untuk kebutuhan rumah tangga.
    Memilih model genset berdasarkan ukuran dan tingkat kebisingan. Kita mungkin tidak memiliki ruangan yang cukup luas untuk dapat meletakkan genset yang kita beli di rumah. Dengan demikian, memilih genset yang berukuran kecil juga merupakan solusi yang terbaik walaupun seringkali ukuran fisik genset berbanding lurus dengan kapasitasnya. Produsen genset juga telah memberikan pilihan yang cukup variatif mengenai suara yang telah dihasilkan oleh mesin tersebut. Pilihan produk dengan tingkat kebisingan rendah adalah yang paling masuk akal untuk digunakan di rumah.
    Menyesuaikan produk yang diinginkan dengan kondisi keuangan. Nah, ini adalah aspek yang paling penting menurut sebagian besar orang. Lalu, kenapa aspek ini harus ada di urutan ke-empat? Kita bisa saja membeli produk yang murah. Akan tetapi, jika kita melihat kembali seberapa penting fungsi genset untuk dapat mendukung aktifitas kita, membeli genset atas dasar harga yang murah bisa jadi cukup beresiko. Ketika kita salah dalam menentukan pilihan hanya karena harga murah yang ditawarkan, hal ini juga dapat berakibat pada tidak maksimalnya fungsi genset tersebut sehingga kita membutuhkan yang baru dengan kapasitas lebih besar dan harga yang lebih mahal.

Di luar kebutuhan kita akan genset yang seringkali mendesak ketika listrik padam, kita tentu berharap pasokan listrik dari PLN dapat kita nikmati dengan nyaman dan stabil. Semoga tips ini bermanfaat.


Editor : Dian Sukmawatid

saco-indonesia.com, Banjir seakan sudah telah menjadi bagian hidup warga kampung Pulo, Jatinegara, Jakarta Timur. Setiap tahunny

saco-indonesia.com, Banjir seakan sudah telah menjadi bagian hidup warga kampung Pulo, Jatinegara, Jakarta Timur. Setiap tahunnya, pemukiman padat penduduk yang telah berjarak beberapa meter dari kali Ciliwung ini selalu dilanda banjir dengan ketinggian 1 meter hinga 5 meter.

Banjir akibat luapan Kali Ciliwung yang telah melintas di dekat rumah mereka ini juga sering terjadi terutama saat hujan telah mengguyur wilayah Depok, Cianjur atau Bogor. Namun, banjir yang telah terjadi sejak awal bulan Januari 2014 disebut sebagai banjir terlama.

"Ini rekor banjir paling lama. Biasanya kalau surut, nggak bakal naik lagi. Ini juga sampai empat kali naik. Kita di pengungsian aja sudah 3 mingguan," kata Sukirin, salah satu warga, RW 04, saat ditemui dilokasi, Kamis (30/1).

Sukirin juga berharap, agar pemerintah, khususnya Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo, agar dapat memberikan solusi yang terbaik bagi warga Kampung Pulo. Pria yang sehari-harinya telah menjual bakso, ini rela dipindahkan dari Kampung Pulo asal tidak ada pihak yang dirugikan.

"Kalau saling menguntungkan, saya sih mau-mau aja pindah. Tapi masalahnya pemerintah mau nggak, perjuangkan nasib kita," ucapnya.

Sementara itu, menurut Lurah Kampung Melayu, Bambang Pangestu, banjir saat ini juga merupakan banjir terlama yang telah dialami oleh warga, dimana telah memasuki minggu ketiga. Sementara banjir besar yang sempat terjadi pada 2002, 2007, atau 2013 tidak pernah selama lebih dari 10 hari.

"Tahun lalu posko pengungsian hanya sampai 10 hari. Sementara banjir sekarang juga sudah hampir tiga minggu," kata Bambang.

Bambang telah menduga lamanya masa banjir disebabkan oleh hujan yang mengguyur secara terus menerus. Pada tahun-tahun sebelumnya, kata Bambang, hujan deras hanya mengguyur maksimal selama tiga hari.

"Kalau sekarang hujannya tidak deras tapi terus menerus, terutama di wilayah hulu," jelasnya.


Editor : Dian Sukmawati

Mr. Fox, known for his well-honed countrified voice, wrote about things dear to South Carolina and won over Yankee critics.

Photo
 
Many bodies prepared for cremation last week in Kathmandu were of young men from Gongabu, a common stopover for Nepali migrant workers headed overseas. Credit Daniel Berehulak for The New York Times

KATHMANDU, Nepal — When the dense pillar of smoke from cremations by the Bagmati River was thinning late last week, the bodies were all coming from Gongabu, a common stopover for Nepali migrant workers headed overseas, and they were all of young men.

Hindu custom dictates that funeral pyres should be lighted by the oldest son of the deceased, but these men were too young to have sons, so they were burned by their brothers or fathers. Sukla Lal, a maize farmer, made a 14-hour journey by bus to retrieve the body of his 19-year-old son, who had been on his way to the Persian Gulf to work as a laborer.

“He wanted to live in the countryside, but he was compelled to leave by poverty,” Mr. Lal said, gazing ahead steadily as his son’s remains smoldered. “He told me, ‘You can live on your land, and I will come up with money, and we will have a happy family.’ ”

Weeks will pass before the authorities can give a complete accounting of who died in the April 25 earthquake, but it is already clear that Nepal cannot afford the losses. The countryside was largely stripped of its healthy young men even before the quake, as they migrated in great waves — 1,500 a day by some estimates — to work as laborers in India, Malaysia or one of the gulf nations, leaving many small communities populated only by elderly parents, women and children. Economists say that at some times of the year, one-quarter of Nepal’s population is working outside the country.

Artikel lainnya »