umroh juni

saco-indonesia.com, "Rumah tangga gimana-gimana, biasa," kata Uje. "Rumah tangga Rasul saja ada kisruh, apalagi gue yang bejat. Gue penjahat, bro. Lo aja lihat gue baik." Pertengkaran memang terjadi, namun ustadz berusia 37 tahun itu mengatakan bahwa hal itu tak terlalu sering. "Kalau dibilang sering, nggak juga. Kalau sering ya repot. Yang bikin masalah, gue sebenarnya. Kalau kita buat masalah maka selesaikanlah, jangan bikin masalah baru."

saco-indonesia.com, Rumah tangga Ustad Jeffry Al Buchori dikabarkan tengah kisruh. Hal itu diakui oleh Ustad yang sering disapa Uje itu saat menghadiri pernikahan aktris dan penyanyi, Intan Nuraini.

"Rumah tangga gimana-gimana, biasa," kata Uje. "Rumah tangga Rasul saja ada kisruh, apalagi gue yang bejat. Gue penjahat, bro. Lo aja lihat gue baik."

Pertengkaran memang terjadi, namun ustadz berusia 37 tahun itu mengatakan bahwa hal itu tak terlalu sering. "Kalau dibilang sering, nggak juga. Kalau sering ya repot. Yang bikin masalah, gue sebenarnya. Kalau kita buat masalah maka selesaikanlah, jangan bikin masalah baru."

Menurut Uje, kisruh yang terjadi dalam rumah tangga itu hal biasa. Uje mengibaratkannya sebagai sebuah kapal.

"Rumah tangga itu kapal yang besar. Untuk bisa sampai ke pulau impian, ada badai, ombak, angin, kita perlu itu semua," tutur penceramah yang telah dikaruniani empat orang anak itu. "Yang penting pengendalian diri. Kalau ada kisruh, itu justru namanya rumah tangga. Kalau nggak, gue justru curiga."

Uje bertemu dengan sang istri, Pipik Dian Irawati, seorang model gadis sampul majalah Aneka tahun 1995. Keduanya melangsungkan nikah siri pada 7 September 1999, dua bulan kemudian mereka menikah resmi di Semarang. Sementara perjalanannya sebagai da'i kondang berangkat dari kakaknya. Pada 2006, Uje meluncurkan debut album Islami yang berjudul "Lahir Kembali".

saco-indonesia.com, Seorang juru parkir, Septian Papa alias Tomi, telah tewas dikeroyok preman di sekitar Jembatan Rel Kereta Gu

saco-indonesia.com, Seorang juru parkir, Septian Papa alias Tomi, telah tewas dikeroyok preman di sekitar Jembatan Rel Kereta Gunung Antang, Jatinegara, Jakarta Timur, Jumat (7/2) dinihari. Pemuda yang berusia sekitar 26 tahun itu tewas akibat luka bacok di sekujur tubuhnya.

Utar, seorang saksi mata telah mengaku sempat melihat korban dilempar dari atas jembatan di atas Jalan Matraman Raya. Pemantauan Pos Kota jarak jembatan ke jalan raya tersebut kurang lebih telah mencapai 5 m.

“Kejadiannya sekitar jam 2:00. Sebelum korban dilempar, saya juga telah mendengar teriakan sejumlah orang yang telah mengeroyok korban. Katanya, ‘buang aja, buang’,” ujarnya, di sekitar lokasi kejadian, Jumat (7/2) dini hari.

Belum cukup sampai di sana saja , urainya, korban juga sempat dilempari batu ketika tersungkur di pojok jalan bawah jembatan. Warga sekitar lokasi kemudian baru berani untuk menghampiri korban setelah tak ada lagi serangan dari para pelaku.

“Pas kami hampiri, ternyata korban juga banyak mendapat luka bacokan, mulai dari kepala, mata sebelah kanan hilang, leher sebelah kanan dan tangan kiri juga sobek, serta semua jari kaki kanannya hilang seperti habis dipotongi. Oleh warga korban langsung dibawa ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM),” paparnya.

Utar juga mengaku tak tahu persis kenapa pemuda tersebut telah dikeroyok sejumlah preman. Ia hanya mengetahui bahwa korban sehari-harinya bekerja sebagai juru parkir di sekitar warung di bawah jembatan itu.

Sementara, saksi lain yang tidak disebutkan namanya juga mengatakan, selain Tomi, ada satu korban lain yang juga menderita luka cukup serius. Korban itu, menurutnya adalah kakak Tomi, bernama Yupit Taimbonan alias Yores.

“Sekarang Yores lagi dirawat di Rumah Sakit Kramatjati (RS Polri),” ujarnya.

Ia telah menduga peristiwa pengeroyokan tersebut terjadi akibat dendam antara Yores dengan beberapa pemuda yang biasa berkeliaran di sekitar Jembatan Rel Gunung Antang. “Karena belum lama ini Yores sempat berkelahi dengan beberapa orang di sana. Kemudian Tomi mungkin tadi mencoba bikin perhitungan atau gimana, tapi ia malah dikeroyok hingga tewas,” ungkapnya.

Kasus ini telah ditangani Polsek Jatinegara. Hingga berita ini diturunkan, polisi juga masih harus melakukan penyelidikan mulai dari mendatangi lokasi kejadian dan mencari saksi yang dapat memberikan keterangan.


Editor : Dian Sukmawati

At the National Institutes of Health, Dr. Suzman’s signature accomplishment was the central role he played in creating a global network of surveys on aging.

Hired in 1968, a year before their first season, Mr. Fanning spent 25 years with the team, managing them to their only playoff appearance in Canada.

Artikel lainnya »