Setiap tahunnya biaya naik haji baik haji reguler maupun haji khusus / plus pasti berbeda-beda, Call/Wa. 0851-00-444-682 hal ini dikarenakan adanya perubahan komponen harga untuk kebutuhan pokok naik haji seperti biaya transportasi dan akomodasi termasuk living cost yang dibutuhkan jamaah selama berada di tanah suci sangat fluktuatif. Selain menyediakan paket-paket haji onh plus, umrah dan tour muslim sebagai bentuk layanan yang tersedia, Travel Aida Tourindo Wisata juga berusaha menghadirkan mutowif (pembimbing) ibadah umroh haji yang ahli dan mendalami bidang Fiqih Islam, terutama untuk masalah ibadah umrah dan haji.

Kami berusaha memberikan bimbingan mulai sebelum berangkat, saat pelaksanaan dan setelah ibadah haji dan umroh, ini sebagai bentuk tanggung jawab moral kami kepada jamaah, bahwa ibadah yang dijalani telah sah sesuai petunjuk Allah dan Sunnah Nabi Muhammad SAW. Travel kami juga menggunakan penerbangan yang langsung landing Madinah sehingga jamaah bisa nyaman selama perjalanan umroh bersama kami.

promo umroh desember di Rawalumbu

Aktor Michael Douglas membantah bahwa ia pernah mengatakan kanker tenggorokan yang dialaminya disebabkan karena seks oral.

Saco- Indonesia.com — Aktor Michael Douglas membantah bahwa ia pernah mengatakan kanker tenggorokan yang dialaminya disebabkan karena seks oral.

Aktor Hollywood yang juga suami Catherine Zata-Jones ini beberapa waktu lalu mengatakan bahwa ia menderita kanker tenggorokan yang disebabkan oleh human papilloma virus (HPV), dan ditularkan ketika ia melakukan seks oral kepada perempuan.

Para dokter kemudian mempertanyakan perkataan Douglas tersebut. Karena itu aktor gaek ini buru-buru mencabut pernyataannya.

Juru bicara Michael Douglas, Allen Burry mengatakan bahwa Douglas tidak pernah mengatakan HPV sebagai penyebab kankernya. Douglas hanya mendiskusikan apa penyebab kanker mulut.

Ketika diwawancara oleh reporter harian Guardian, Inggris, Douglas mengatakan, "Tanpa bermaksud terlalu spesifik, kanker seperti ini biasanya disebabkan oleh HPV yang berasal dari aktivitas seks oral".

Dr Michael Brady, direktur medis kesehatan seksual Terrence Higgins Trust, mengatakan, meski seks oral bisa menyebabkan kanker, tetapi sangat sulit untuk menentukan satu jenis penyebab kanker.

Apalagi, menurut Brady, Douglas adalah perokok dan juga peminum, dua faktor yang lebih berkontribusi pada terjadinya kanker tenggorokan.

Michael Douglas berjuang melawan kanker sejak Agustus 2010 sampai Januari 2011. Pada masa tersebut ia mengatakan kebiasaan merokok dan minum alkohol yang pernah dilakoninya mungkin memicu kanker.

Namun, pada sebuah wawancara terbaru, aktor berusia 68 tahun ini mengatakan kanker yang dideritanya disebabkan oleh HPV. Douglas juga menyebutkan stres yang dialaminya karena memikirkan kelakuan anak sulungnya yang dipenjara akibat narkoba.

Brady menjelaskan ada ribuan jenis virus HPV dan pada kebanyakan kasus tidak berbahaya. Risiko virus ini memicu kanker tenggorokan juga kecil.

Tahun lalu Cancer Research Inggris menyebutkan ada peningkatan kasus kanker mulut dan tenggorokan yang terkait seks oral. WHO juga menyatakan HPV mungkin menyumbang 5 persen terjadinya kanker di seluruh dunia.

HPV bisa ditularkan antara pria dan wanita melalui kontak genital, terutama lewat seks vagina dan anal. Virus ini juga ditularkan lewat seks oral dan kontak antargenital.  

Douglas didiangosis menderita kanker tenggorokan stadium empat dan menjalani terapi intensif berupa kemoterapi dan radiasi. Saat ini dokter menyatakan kanker telah bersih dari tubuhnya, tapi ia diwajibkan melakukan pemeriksaan setiap 6 bulan.

 

Editor:Liwon Maulanan(galipat)

Betapa nikamatnya di saat penat pulang dari kerja, jalan-jalan, liburan atau belanja dari mall Anda duduk di sebuah ruangan kemu

Betapa nikamatnya di saat penat pulang dari kerja, jalan-jalan, liburan atau belanja dari mall Anda duduk di sebuah ruangan kemudian menekan remote control AC. Beberapa saat kemudian Anda juga akan menikmati udara yang sejuk dan penat pun hilang. Namun Anda juga harus jeli dalam memilih sebelum membeli AC. Jeli dalam arti awet penggunaannya serta efisien kebutuhan listriknya. Berikut ini adalah tips jeli dan teliti dalam membeli AC:

1. Kapasitas AC. Perhatikan kapasitas sebuah AC yang telah tercantum dalam BTUH (British Thermal Unit Per Hours). Satuan BTUH tersebut dapat menentukan kapasitas sebuah AC menarik/menyerap panas dalam satu jam. Karena pada dasarnya AC bekerja dengan cara menarik panas dari ruangan dan bukan mendinginkannya, jadi sebutan yang tepat untuk AC adalah penyerap panas, bukan pendingin ruangan.

2. Hitung daya kapasitasnya. Menurut konversi unit satuan 1 PK = 2.544 btu/h = 746 watt. Unit AC yang telah memiliki kapasitas yang lebih besar tidak selalu lebih baik karena unit yang terlalu besar tidak akan mendinginkan area secara seragam. Pada beberapa jenis air conditioner, unit yang terlalu besar juga akan mendinginkan udara terlalu cepat yang akan dapat menyebabkan air conditioner akan hidup dan mati lebih sering. Hal ini dapat menyebabkan boros listrik dan uang. Sebagai tambahan, unit yang terlalu besar tidak akan beroperasi cukup lama untuk dapat mengurangi kelembaban, bukannya membuat udara lebih nyaman, udara akan malah akan terasa “beku” dan “basah” pada pengaturan thermostat normal. Sebaliknya, Anda juga harus menghindari membeli unit AC yang terlalu kecil. Kapasitas AC yang tidak cukup akan terus-terusan beroperasi namun tidak mampu mendinginkan udara secara optimal. Dalam mengukur kebutuhan AC untuk rumah Anda, pertimbangkan ukuran ruang dan bagaimana ruang tersebut digunakan.

With 12 tournament victories in his career, Mr. Peete was the most successful black professional golfer before Tiger Woods.

WASHINGTON — During a training course on defending against knife attacks, a young Salt Lake City police officer asked a question: “How close can somebody get to me before I’m justified in using deadly force?”

Dennis Tueller, the instructor in that class more than three decades ago, decided to find out. In the fall of 1982, he performed a rudimentary series of tests and concluded that an armed attacker who bolted toward an officer could clear 21 feet in the time it took most officers to draw, aim and fire their weapon.

The next spring, Mr. Tueller published his findings in SWAT magazine and transformed police training in the United States. The “21-foot rule” became dogma. It has been taught in police academies around the country, accepted by courts and cited by officers to justify countless shootings, including recent episodes involving a homeless woodcarver in Seattle and a schizophrenic woman in San Francisco.

Now, amid the largest national debate over policing since the 1991 beating of Rodney King in Los Angeles, a small but vocal set of law enforcement officials are calling for a rethinking of the 21-foot rule and other axioms that have emphasized how to use force, not how to avoid it. Several big-city police departments are already re-examining when officers should chase people or draw their guns and when they should back away, wait or try to defuse the situation

Artikel lainnya »