umroh januari 2020

Pada dasarnya orang yang sudah memenuhi syarat-syarat untuk mengerjakan haji, wajib hukumnya menunaikan ibadah tersebut. Akan te

Pada dasarnya orang yang sudah memenuhi syarat-syarat untuk mengerjakan haji, wajib hukumnya menunaikan ibadah tersebut. Akan tetapi, bagaimana jika ia menunda ibadah hajinya?

Ada dua pendapat di kalangan para ulama tentang masalah ini. Pertama, haji wajib segera dilaksanakan apabila seseorang telah memiliki kemampuan untuk pergi ke Baitullah. Pendapat ini didukung oleh para ulama madzhab Hanafi, Maliki, dan Hanbali.

Pendapat kedua, haji wajib dilaksanakan dengan kelonggaran waktu. Artinya, meski seseorang sudah mampu menunaikan ibadah haji namun ia boleh melaksanakannya di lain kesempatan. Pendapat ini didukung oleh ulama madzhab Syafi’i, sebagian ulama madzhab Hanafi, dan sebagian ulama madzhab Maliki.

Terlepas dari dua pendapat yang berbeda di atas, haji tidak dapat ditunda-tunda jika ada hal-hal yang mengharuskannya segera dilaksanakan. Misalnya, karena nadzar, qadha’, kekhawatiran bahwa tahun-tahun berikutnya jatuh sakit atau meninggal dunia, maupun harta benda yang berkurang sehingga tidak cukup digunakan untuk membayar biaya haji.

Dalam kondisi-kondisi seperti itu, menunda pelaksanaan ibadah haji dilarang. Pada saat yang sama, jika syarat- syarat menunaikan haji sudah terpenuhi maka sunnah hukumnya segera melaksanakannya. Wallahu’alam

Sumber : http://www.jurnalhaji.com

Baca Artikel Lainnya : FILOSOFI DARI BERNIAT HAJI

Pembahasan mengenai artikel SEO ini memang khusus ditujukan bagi penulis, apalagi jika ingin berkarir dalam dunia penulisan. Tul

Pembahasan mengenai artikel SEO ini memang khusus ditujukan bagi penulis, apalagi jika ingin berkarir dalam dunia penulisan. Tulisan yang menarik dan enak dibaca tentunya akan diletakkan paling depan atau paling atas jika dibandingkan dengan tulisan yang lain. Dalam artikel ini penulis akan memberikan sedikit tips dalam penulisan dengan SEO. Yang pertama harus dilakukan adalah seperti layaknya sebuah film, yaitu judul. Jika judul suatu film tidak menarik tentunya kita akan mengurungkan niat untuk menonton dan mencari judul yang membuat kita penasaran sehingga ingin memecahkannya. Setelah judul, kita dapat membuat sebuah list, untuk judul ada dibaris pertama, baris kedua adalah SEO, baris ketiga adalah poin-poin yang ingin kita tulis dan seterusnya.

Selanjutnya kita tempatkan kata kunci utama dalam artikel SEO kita. Kata kunci tersebut dapat kita sebarkan dalam beberapa paragrap tulisan kita, jangan lupa kita letakkan dahulu di judul, dan untuk penyebarannya di dalam paragrap tidak ada ketentuan yang signifikan, kita hanya perlu menyebarkannya secara merata, contohnya untuk paragrap pertama kita menyebarkan kata kunci tersebut sebanyak 40 persen, pada paragrap kedua sebanyak 20 persen dan sebagai paragrap penutup juga 40 persen. Selain itu jangan merasa yakin dengan kata kunci yang telah kita buat, para pencari data biasanya tidak akan tepat dengan kata kunci utama kita, namun perlu mencantumkan kata kunci yang berhubungan dengan SEO, seperti blog SEO, tulisan SEO dan sejenisnya.

Ada pengakhiran pada setiap apa yang kita lakukan begitu juga untuk artikel SEO, jika dalam penulisan kita tentu mengenal editing atau memeriksa kembali hasil penulisan kita. Walaupun kita membaca berulang kali ketika kita membacanya lagi akan selalu saja ada penempatan artikel yang akan kita pindahkan ke baris yang lain agar penulisan sempurna dan enak untuk dibaca. Bagaimanapun kepuasan pembaca adalah kualitas dari sebuah tulisan, maka jangan lupa juga kata penutup, semoga artikel ini memberi peningkatan kualitas menulis.

Ms. Rendell was a prolific writer of intricately plotted mystery novels that combined psychological insight, social conscience and teeth-chattering terror.

WASHINGTON — During a training course on defending against knife attacks, a young Salt Lake City police officer asked a question: “How close can somebody get to me before I’m justified in using deadly force?”

Dennis Tueller, the instructor in that class more than three decades ago, decided to find out. In the fall of 1982, he performed a rudimentary series of tests and concluded that an armed attacker who bolted toward an officer could clear 21 feet in the time it took most officers to draw, aim and fire their weapon.

The next spring, Mr. Tueller published his findings in SWAT magazine and transformed police training in the United States. The “21-foot rule” became dogma. It has been taught in police academies around the country, accepted by courts and cited by officers to justify countless shootings, including recent episodes involving a homeless woodcarver in Seattle and a schizophrenic woman in San Francisco.

Now, amid the largest national debate over policing since the 1991 beating of Rodney King in Los Angeles, a small but vocal set of law enforcement officials are calling for a rethinking of the 21-foot rule and other axioms that have emphasized how to use force, not how to avoid it. Several big-city police departments are already re-examining when officers should chase people or draw their guns and when they should back away, wait or try to defuse the situation

Artikel lainnya »