ITINERARY PEJALANAN UMROH PLUS CITYTOUR DUBAI 10 HARI

Aktor Michael Douglas membantah bahwa ia pernah mengatakan kanker tenggorokan yang dialaminya disebabkan karena seks oral.

Saco- Indonesia.com — Aktor Michael Douglas membantah bahwa ia pernah mengatakan kanker tenggorokan yang dialaminya disebabkan karena seks oral.

Aktor Hollywood yang juga suami Catherine Zata-Jones ini beberapa waktu lalu mengatakan bahwa ia menderita kanker tenggorokan yang disebabkan oleh human papilloma virus (HPV), dan ditularkan ketika ia melakukan seks oral kepada perempuan.

Para dokter kemudian mempertanyakan perkataan Douglas tersebut. Karena itu aktor gaek ini buru-buru mencabut pernyataannya.

Juru bicara Michael Douglas, Allen Burry mengatakan bahwa Douglas tidak pernah mengatakan HPV sebagai penyebab kankernya. Douglas hanya mendiskusikan apa penyebab kanker mulut.

Ketika diwawancara oleh reporter harian Guardian, Inggris, Douglas mengatakan, "Tanpa bermaksud terlalu spesifik, kanker seperti ini biasanya disebabkan oleh HPV yang berasal dari aktivitas seks oral".

Dr Michael Brady, direktur medis kesehatan seksual Terrence Higgins Trust, mengatakan, meski seks oral bisa menyebabkan kanker, tetapi sangat sulit untuk menentukan satu jenis penyebab kanker.

Apalagi, menurut Brady, Douglas adalah perokok dan juga peminum, dua faktor yang lebih berkontribusi pada terjadinya kanker tenggorokan.

Michael Douglas berjuang melawan kanker sejak Agustus 2010 sampai Januari 2011. Pada masa tersebut ia mengatakan kebiasaan merokok dan minum alkohol yang pernah dilakoninya mungkin memicu kanker.

Namun, pada sebuah wawancara terbaru, aktor berusia 68 tahun ini mengatakan kanker yang dideritanya disebabkan oleh HPV. Douglas juga menyebutkan stres yang dialaminya karena memikirkan kelakuan anak sulungnya yang dipenjara akibat narkoba.

Brady menjelaskan ada ribuan jenis virus HPV dan pada kebanyakan kasus tidak berbahaya. Risiko virus ini memicu kanker tenggorokan juga kecil.

Tahun lalu Cancer Research Inggris menyebutkan ada peningkatan kasus kanker mulut dan tenggorokan yang terkait seks oral. WHO juga menyatakan HPV mungkin menyumbang 5 persen terjadinya kanker di seluruh dunia.

HPV bisa ditularkan antara pria dan wanita melalui kontak genital, terutama lewat seks vagina dan anal. Virus ini juga ditularkan lewat seks oral dan kontak antargenital.  

Douglas didiangosis menderita kanker tenggorokan stadium empat dan menjalani terapi intensif berupa kemoterapi dan radiasi. Saat ini dokter menyatakan kanker telah bersih dari tubuhnya, tapi ia diwajibkan melakukan pemeriksaan setiap 6 bulan.

 

Editor:Liwon Maulanan(galipat)

Satu lagi wisata yang dapat kita dikunjungi di Bandung, Jawa Barat. Kota yang dijuluki dengan Paris Van Java ini memang telah me

Satu lagi wisata yang dapat kita dikunjungi di Bandung, Jawa Barat. Kota yang dijuluki dengan Paris Van Java ini memang telah memiliki beraneka ragam tempat wisata yang sangat menarik, salah satunya adalah Trans Studio Bandung. Siapa yang tidak kenal dengan obyek wisata satu ini. Obyek wisata yang dikabarkan juga merupakan taman bermain indoor terbesar di Asia bahkan di dunia ini dikelola oleh salah satu corporate televisi swasta di Indonesia. Obyek wisata yang mulai dibuka umum tepat tanggal 18 Juni 2011 ini memang telah menyedot animo masyarakat khususnya wisatawan yang telah berkunjung ke kota Bandung.

Wahana Trans Studio Bandung ini telah terletak di Jalan Gatot Subroto No. 258, Bandung, Jawa Barat, Indonesia. Obyek wisata yang buka mulai pukul 10.00-22.00 WIB pada hari Senin-Jum’at dan 09.00-22.00 WIB pada hari libur atau weekend ini telah menawarkan 20 wahana permainan yang tentunya akan sangat menarik dan patut untuk dicoba. Wahana-wahana tersebut telah terbagi menjadi tiga bagian: Studio Central, Lost City dan Magic Corner.

Ada beberapa wahana yang dapat kita dinikmati. Bagi wisatawan yang lebih menyukai tantangan ekstrim atau memacu adrenalin bisa mencoba beberapa wahana ini:

Yamaha Race Coaster

Roller Coaster terekstrim ketiga di dunia ini akan membawa wisatawan menahan nafas untuk beberapa saat karena Anda akan dibawa dengan kecepatan lebih dari 130 km/jam dengan ketinggian sekitar 40 meter dengan posisi kembali terbalik seperti saat pertama.

Giant Swing

Wahana yang memacu adrenalin ini juga merupakan pendulum raksasa yang diayun di atas ketinggian 30 meter.

Vertigo

Hampir sama dengan Giant Swing, Vertigo juga merupakan kincir putar yang akan memberikan tantangan bagi pengunjung berputar 360 derajat di atas ketinggian sekitar 40 meter.

Negeri Raksasa (Jack and The Bean)

Mengikuti cerita si Jack yang mencuri ayam emas milik raksasa di atas ketinggian dan dijatuhkan dari lantai lima atau setinggi tigabelas meter akan membuat jantung Anda serasa terhenti sejenak.

Dunia Lain

Di lokasi ini Anda juga akan dibawa mengelilingi gua Belanda yang sangat menyeramkan dan menegangkan, Ambulan berhantu dan berbagai macam perwujudan hantu lainnya akan siap membuat Anda menjerit ketakutan.

Tidak semua wahana di Trans Studio Bandung bersifat menantang. Ada juga wahana yang diperuntukkan bagi anak-anak dan keluarga, diantaranya adalah:

Pulau Liliput

Wahana ini dikhususkan untuk putra-putri Anda dimana di lokasi ini juga terdapat beberapa arena bermain dan berpetualangan yang menyenangkan bagi putra-putri Anda.

Si Bolang

Wahana ini juga akan menyuguhkan petualangan menarik. Anda beserta keluarga bisa mengelilingi seluruh provinsi di Indonesia bersama tokoh Bolang.

Dunia Anak (Kiddy’s Land)

Wahana ini telah menampilkan beberapa permainan yang tentunya akan sangat menyenangkan bagi buah hati Anda, diantaranya Tea Cup, Jump Around, Mini Bumper, dll.

Science Center

Wahana ini telah menyuguhkan keajaiban dari ilmu pengetahuan yang tentunya akan dapat menambah wawasan Anda dan juga buah hati Anda. Pengunjung juga dapat langsung mempraktekkan beberapa alat peraga yang terdapat di wahana ini.

Jelajah

Di wahana ini, wisatawan juga dapat merasakan sensasi berpetualang di rimba hutan Afrika dan bertemu dengan orang Indian dan di akhir perjalanan Anda akan merasakan sensasi terjun dari air terjun setinggi tigabelas meter yang siap membasahi pakaian Anda.

Skypirates "Zeppelin"

Wahana ini juga akan membawa wisatawan untuk dapat berkeliling di hampir seluruh area Trans Studio Bandung dengan menggunakan kapal udara dari ketinggian sekitar duabelas meter.

Marvel Superheroes The Ride 4D

Tokoh-tokoh pahlawan terkenal bisa Anda saksikan dalam pemutaran film pendek berdurasi sekitar sepuluh menit dengan kecanggihan empat dimensi. Sehingga pengunjung serasa dibawa dalam setiap adegan di film tersebut.

Amphitheater

Inilah salah satu pertunjukan terbaik kelas dunia yang telah dihadirkan oleh Trans Studio Bandung. Wisatawan akan dapat menyaksikan pertunjukan maha dahsyat yang menampilkan cerita yang sangat sayang untuk dilewatkan.

Sangat perlu diketahui bahwa setiap wahana telah memiliki peraturan atau syarat tersendiri. Jadi, pengunjung senantiasa diharapkan untuk dapat mematuhi setiap aturan yang terdapat di setiap wahana permainan. Bagi pengunjung yang ingin menikmati keseluruhan permainan tersebut dapat membeli tiket masuk seharga Rp 150.000 pada hari Senin-Jum’at dan Rp 200.000 pada hari libur atau weekend. Bagi wisatwana juga disediakan tiket VIP yang tentunya akan sangat membantu dalam menikmati setiap permainan karena dengan VIP card ini Anda akan mendapatkan antrian yang berbeda dan lebih cepat. Untuk menadapatkan tiket VIP ini, wisatawan diharuskan menambah biaya sebesar Rp 250.000,-.

Di area ini juga telah tersedia berbagai macam outlet yang menjual makanan dan minuman. Selain itu, terdapat juga beberapa outlet yang menjual souvenir atau oleh-oleh khas dari Trans Studio Bandung. Namun pembelian di setiap outlet di area Trans Studio Bandung ini tidak dapat menggunakan uang cash. Setiap pembayaran untuk makan, souvenir dan lain sebagainya menggunakan kartu yang telah diisi ulang sebelumnya. Kartu tersebut bisa didapatkan ketika membeli tiket masuk dengan biaya sebesar Rp 10.000. Untuk dapat menggunakan kartu ini dalam setiap transaksi, pengujung terlebih dahulu harus mengisi ulang di outlet-outlet yang telah disediakan di seputar area Trans Studio Bandung dengan maksimum pengisian Rp 1.000.000,- (Mega Cash yang tidak terdaftar) dan Rp 5.000.000,- (Mega Cash terdaftar).

 

Even as a high school student, Dave Goldberg was urging female classmates to speak up. As a young dot-com executive, he had one girlfriend after another, but fell hard for a driven friend named Sheryl Sandberg, pining after her for years. After they wed, Mr. Goldberg pushed her to negotiate hard for high compensation and arranged his schedule so that he could be home with their children when she was traveling for work.

Mr. Goldberg, who died unexpectedly on Friday, was a genial, 47-year-old Silicon Valley entrepreneur who built his latest company, SurveyMonkey, from a modest enterprise to one recently valued by investors at $2 billion. But he was also perhaps the signature male feminist of his era: the first major chief executive in memory to spur his wife to become as successful in business as he was, and an essential figure in “Lean In,” Ms. Sandberg’s blockbuster guide to female achievement.

Over the weekend, even strangers were shocked at his death, both because of his relatively young age and because they knew of him as the living, breathing, car-pooling center of a new philosophy of two-career marriage.

“They were very much the role models for what this next generation wants to grapple with,” said Debora L. Spar, the president of Barnard College. In a 2011 commencement speech there, Ms. Sandberg told the graduates that whom they married would be their most important career decision.

In the play “The Heidi Chronicles,” revived on Broadway this spring, a male character who is the founder of a media company says that “I don’t want to come home to an A-plus,” explaining that his ambitions require him to marry an unthreatening helpmeet. Mr. Goldberg grew up to hold the opposite view, starting with his upbringing in progressive Minneapolis circles where “there was woman power in every aspect of our lives,” Jeffrey Dachis, a childhood friend, said in an interview.

The Goldberg parents read “The Feminine Mystique” together — in fact, Mr. Goldberg’s father introduced it to his wife, according to Ms. Sandberg’s book. In 1976, Paula Goldberg helped found a nonprofit to aid children with disabilities. Her husband, Mel, a law professor who taught at night, made the family breakfast at home.

Later, when Dave Goldberg was in high school and his prom date, Jill Chessen, stayed silent in a politics class, he chastised her afterward. He said, “You need to speak up,” Ms. Chessen recalled in an interview. “They need to hear your voice.”

Years later, when Karin Gilford, an early employee at Launch Media, Mr. Goldberg’s digital music company, became a mother, he knew exactly what to do. He kept giving her challenging assignments, she recalled, but also let her work from home one day a week. After Yahoo acquired Launch, Mr. Goldberg became known for distributing roses to all the women in the office on Valentine’s Day.

Ms. Sandberg, who often describes herself as bossy-in-a-good-way, enchanted him when they became friendly in the mid-1990s. He “was smitten with her,” Ms. Chessen remembered. Ms. Sandberg was dating someone else, but Mr. Goldberg still hung around, even helping her and her then-boyfriend move, recalled Bob Roback, a friend and co-founder of Launch. When they finally married in 2004, friends remember thinking how similar the two were, and that the qualities that might have made Ms. Sandberg intimidating to some men drew Mr. Goldberg to her even more.

Over the next decade, Mr. Goldberg and Ms. Sandberg pioneered new ways of capturing information online, had a son and then a daughter, became immensely wealthy, and hashed out their who-does-what-in-this-marriage issues. Mr. Goldberg’s commute from the Bay Area to Los Angeles became a strain, so he relocated, later joking that he “lost the coin flip” of where they would live. He paid the bills, she planned the birthday parties, and both often left their offices at 5:30 so they could eat dinner with their children before resuming work afterward.

Friends in Silicon Valley say they were careful to conduct their careers separately, politely refusing when outsiders would ask one about the other’s work: Ms. Sandberg’s role building Facebook into an information and advertising powerhouse, and Mr. Goldberg at SurveyMonkey, which made polling faster and cheaper. But privately, their work was intertwined. He often began statements to his team with the phrase “Well, Sheryl said” sharing her business advice. He counseled her, too, starting with her salary negotiations with Mark Zuckerberg.

“I wanted Mark to really feel he stretched to get Sheryl, because she was worth it,” Mr. Goldberg explained in a 2013 “60 Minutes” interview, his Minnesota accent and his smile intact as he offered a rare peek of the intersection of marriage and money at the top of corporate life.

 

 

While his wife grew increasingly outspoken about women’s advancement, Mr. Goldberg quietly advised the men in the office on family and partnership matters, an associate said. Six out of 16 members of SurveyMonkey’s management team are female, an almost unheard-of ratio among Silicon Valley “unicorns,” or companies valued at over $1 billion.

When Mellody Hobson, a friend and finance executive, wrote a chapter of “Lean In” about women of color for the college edition of the book, Mr. Goldberg gave her feedback on the draft, a clue to his deep involvement. He joked with Ms. Hobson that she was too long-winded, like Ms. Sandberg, but aside from that, he said he loved the chapter, she said in an interview.

By then, Mr. Goldberg was a figure of fascination who inspired a “where can I get one of those?” reaction among many of the women who had read the best seller “Lean In.” Some lamented that Ms. Sandberg’s advice hinged too much on marrying a Dave Goldberg, who was humble enough to plan around his wife, attentive enough to worry about which shoes his young daughter would wear, and rich enough to help pay for the help that made the family’s balancing act manageable.

Now that he is gone, and Ms. Sandberg goes from being half of a celebrated partnership to perhaps the business world’s most prominent single mother, the pages of “Lean In” carry a new sting of loss.

“We are never at 50-50 at any given moment — perfect equality is hard to define or sustain — but we allow the pendulum to swing back and forth between us,” she wrote in 2013, adding that they were looking forward to raising teenagers together.

“Fortunately, I have Dave to figure it out with me,” she wrote.

Mr. Miller, of the firm Weil, Gotshal & Manges, represented companies including Lehman Brothers, General Motors and American Airlines, and mentored many of the top Chapter 11 practitioners today.

Artikel lainnya »