Zat Kafein sudah bukan hal asing lagi dalam kehidupan kita. Zat tersebut telah ada di mana-mana, seperti minuman teh, kopi, obat, bahkan pada produk makanan dan minuman dalam kemasan. Meski kafein memiliki efek positif seperti memberikan suntikan energi dan membuat Anda lebih waspada, namun kafein juga bisa memberikan efek buruk pada tubuh.

Saco-Indonesia.com - Zat Kafein sudah bukan hal asing lagi dalam kehidupan kita. Zat tersebut telah ada di mana-mana, seperti minuman teh, kopi, obat, bahkan pada produk makanan dan minuman dalam kemasan. Meski kafein memiliki efek positif seperti memberikan suntikan energi dan membuat Anda lebih waspada, namun kafein juga bisa memberikan efek buruk pada tubuh.

Ketika dikonsumsi dengan takaran yang tak tepat, apalagi berlebihan, kafein bisa menyebabkan efek kerusakan pada kesehatan dan tubuh. Berikut adalah empat efek negatif yang bisa dilakukan kafein pada tubuh Anda, seperti dilansir oleh Mag for Women.

1. Alergi
Sistem kekebalan tubuh manusia didesain untuk bisa menerima kafein dalam jumlah terbatas setiap hari. Namun beberapa orang memiliki alergi dan sangat sensitif terhadap kafein. Bagi mereka, kafein adalah hal terlarang. Biasanya alergi kafein terjadi pada orang yang memiliki tekanan darah tinggi, sistem pencernaan yang tak sehat, mengalami luka lambung, atau pasien penyakit jantung. Jika Anda mengalami sakit kepala setelah mengonsumsi kafein, bisa jadi itu pertanda alergi dan Anda harus segera menghindarinya.

2. Risiko berkaitan kehamilan
Wanita yang sedang hamil harus lebih berhati-hati sebelum mengonsumsi makanan atau minuman yang mengandung kafein. Kafein tak hanya buruk untuk tubuh ibu, melainkan juga untuk janin mereka. Kafein diketahui bisa meningkatkan risiko komplikasi yang terkait dengan kehamilan. Kafein bisa sampai pada janin dengan cepat setelah melewati plasenta. Mengonsumsi kafein dengan takaran tak benar saat hamil bisa meningkatkan risiko kelahiran prematur atau masalah metabolisme pada bayi yang belum lahir. Kafein juga bisa masuk dalam sistem tubuh janin, meningkatkan kadar racun, dan menyebabkan keguguran.

3. Efek samping
Mengonsumsi kafein berlebihan seperti minum sekitar empat sampai lima cangkir kopi akan memberikan efek samping yang buruk seperti peningkatan detak jantung, merasa grogi dan gelisah, otot bergetar, dan insomnia. Jika ini diteruskan akan menyebabkan rasa lemah dan lelah. Kafein juga bisa menyebabkan masalah pencernaan, kecemasan, dan gelisah. Tak hanya berimbas pada fisik, kafein juga menyebabkan efek samping dalam hal psikologis.

4. Kecanduan
Efek negatif yang buruk dari kafein adalah membuat Anda kecanduan. Kafein sama dengan obat yang akan membuat Anda kecanduan dan tergantung padanya. Itulah kenapa terkadang orang yang sudah kecanduan kopi tak akan bisa meninggalkan kopi dalam sehari. Anda akan merasa efek negatif pada tubuh seperti sakit kepala, gelisah, dan lainnya ketika tak mengonsumsi kopi, setelah kecanduan.

Itulah beberapa efek buruk kafein yang bisa terjadi pada tubuh. Anda boleh mengonsumsi kafein karena memang ada manfaatnya. Namun sebaiknya perhatikan takaran kafein yang dikonsumsi agar tak berbalik memberikan efek negatif pada tubuh.

 

Sumber :merdeka.com

Editor : Maulana Lee

BENGKULU, Saco-Indonesia.com — Wali Kota Bengkulu Helmi Hasan menyediakan hadiah berupa berangkat haji, umrah, dan mobil Toyota Innova milik pribadinya bagi warga daerah itu jika rajin shalat dzuhur berjemaah di Masjid At-Taqwa setiap hari Rabu.

BENGKULU, Saco-Indonesia.com — Wali Kota Bengkulu Helmi Hasan menyediakan hadiah berupa berangkat haji, umrah, dan mobil Toyota Innova milik pribadinya bagi warga daerah itu jika rajin shalat dzuhur berjemaah di Masjid At-Taqwa setiap hari Rabu. Wah ini mendidik mendidik warga untuk melaksanakan ibadah karna hadiah dong Pak, bagaimana niat Karna Allohnya nanti, kan solat ada lima waktu, kalau cuman hari rabu saja bagaimana solat waktu dan hari yang lainnya Pak, harap dikaji ulang ya Bapak Wali Kota Bengkulu yang budiman.

"Saya memberikan motivasi agar masjid ramai tidak sepi, jadi masyarakat Kota Bengkulu yang rajin shalat dzuhur berjemaah akan mendapatkan umrah dan haji gratis serta hadiah bonus satu unit mobil jenis Toyota Innova milik pribadi saya," kata Helmi Hasan saat dihubungi via telepon, Kamis (6/2/2014).

Adapun syarat untuk mendapatkan hadiah itu adalah harus melaksanakan salat dzuhur berturut-turut selama 40 kali, sedangkan untuk mendapatkan hadiah menunaikan ibadah haji gratis, masyarakat harus melaksanakan shalat dzuhur berjemaah secara berturut-turut selama 52 kali. Semuanya dilakukan setiap hari Rabu di Masjid Agung At-Taqwa.

Selanjutnya, hadiah mobil pribadi miliknya itu akan diberikan berdasarkan penilaian warga mana yang paling konsisten mendirikan shalat dzuhur secara berjemaah lebih dari 52 kali. Adapun pemenangnya akan ditentukan sebanyak 100 orang berangkat haji dan umrah, dan akan disiapkan dana sebesar Rp 2,3 miliar dari APBD Kota Bengkulu.

Lalu, dari 100 orang tersebut akan diseleksi siapa yang paling konsisten shalat berjemaah akan mendapatkan bonus hadiah mobil pribadi miliknya itu.

"Saat ini tim penilai tengah bekerja, yang langsung ditangani oleh Kantor Kementerian Agama Kota Bengkulu. Kegiatan ini akan dilakukan setiap tahun," tambah dia.

Program ini, lanjut dia, merupakan motivasi bagi warga Kota Bengkulu untuk meramaikan masjid. Kegiatan ini merupakan satu dari delapan tekad yang kerap didengungkan oleh Kota Bengkulu, yakni "Bengkuluku Religius".

Adapun delapan tekad Bengkulu yakni, bersih, sehat, religius, indah, aman, peduli, kreatif, dan sejuk.

Sumber :kompas.com

Editor : Maulana Lee

Though Robin and Joan Rolfs owned two rare talking dolls manufactured by Thomas Edison’s phonograph company in 1890, they did not dare play the wax cylinder records tucked inside each one.

The Rolfses, longtime collectors of Edison phonographs, knew that if they turned the cranks on the dolls’ backs, the steel phonograph needle might damage or destroy the grooves of the hollow, ring-shaped cylinder. And so for years, the dolls sat side by side inside a display cabinet, bearers of a message from the dawn of sound recording that nobody could hear.

In 1890, Edison’s dolls were a flop; production lasted only six weeks. Children found them difficult to operate and more scary than cuddly. The recordings inside, which featured snippets of nursery rhymes, wore out quickly.

Yet sound historians say the cylinders were the first entertainment records ever made, and the young girls hired to recite the rhymes were the world’s first recording artists.

Year after year, the Rolfses asked experts if there might be a safe way to play the recordings. Then a government laboratory developed a method to play fragile records without touching them.

Audio

The technique relies on a microscope to create images of the grooves in exquisite detail. A computer approximates — with great accuracy — the sounds that would have been created by a needle moving through those grooves.

In 2014, the technology was made available for the first time outside the laboratory.

“The fear all along is that we don’t want to damage these records. We don’t want to put a stylus on them,” said Jerry Fabris, the curator of the Thomas Edison Historical Park in West Orange, N.J. “Now we have the technology to play them safely.”

Last month, the Historical Park posted online three never-before-heard Edison doll recordings, including the two from the Rolfses’ collection. “There are probably more out there, and we’re hoping people will now get them digitized,” Mr. Fabris said.

The technology, which is known as Irene (Image, Reconstruct, Erase Noise, Etc.), was developed by the particle physicist Carl Haber and the engineer Earl Cornell at Lawrence Berkeley. Irene extracts sound from cylinder and disk records. It can also reconstruct audio from recordings so badly damaged they were deemed unplayable.

“We are now hearing sounds from history that I did not expect to hear in my lifetime,” Mr. Fabris said.

The Rolfses said they were not sure what to expect in August when they carefully packed their two Edison doll cylinders, still attached to their motors, and drove from their home in Hortonville, Wis., to the National Document Conservation Center in Andover, Mass. The center had recently acquired Irene technology.

Audio

Cylinders carry sound in a spiral groove cut by a phonograph recording needle that vibrates up and down, creating a surface made of tiny hills and valleys. In the Irene set-up, a microscope perched above the shaft takes thousands of high-resolution images of small sections of the grooves.

Stitched together, the images provide a topographic map of the cylinder’s surface, charting changes in depth as small as one five-hundredth the thickness of a human hair. Pitch, volume and timbre are all encoded in the hills and valleys and the speed at which the record is played.

At the conservation center, the preservation specialist Mason Vander Lugt attached one of the cylinders to the end of a rotating shaft. Huddled around a computer screen, the Rolfses first saw the wiggly waveform generated by Irene. Then came the digital audio. The words were at first indistinct, but as Mr. Lugt filtered out more of the noise, the rhyme became clearer.

“That was the Eureka moment,” Mr. Rolfs said.

In 1890, a girl in Edison’s laboratory had recited:

There was a little girl,

And she had a little curl

Audio

Right in the middle of her forehead.

When she was good,

She was very, very good.

But when she was bad, she was horrid.

Recently, the conservation center turned up another surprise.

In 2010, the Woody Guthrie Foundation received 18 oversize phonograph disks from an anonymous donor. No one knew if any of the dirt-stained recordings featured Guthrie, but Tiffany Colannino, then the foundation’s archivist, had stored them unplayed until she heard about Irene.

Last fall, the center extracted audio from one of the records, labeled “Jam Session 9” and emailed the digital file to Ms. Colannino.

“I was just sitting in my dining room, and the next thing I know, I’m hearing Woody,” she said. In between solo performances of “Ladies Auxiliary,” “Jesus Christ,” and “Dead or Alive,” Guthrie tells jokes, offers some back story, and makes the audience laugh. “It is quintessential Guthrie,” Ms. Colannino said.

The Rolfses’ dolls are back in the display cabinet in Wisconsin. But with audio stored on several computers, they now have a permanent voice.

Gagne wrestled professionally from the late 1940s until the 1980s and was a transitional figure between the early 20th century barnstormers and the steroidal sideshows of today

Artikel lainnya »