umroh april 2019

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) hari ini akan melakukan blusukan ke RT 3 RW 7 Kelurahan Marunda, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara. Pada hari ini ia merasakan ada yang berbeda dengan rombongannya.

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) hari ini akan melakukan blusukan ke RT 3 RW 7 Kelurahan Marunda, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara. Pada hari ini ia merasakan ada yang berbeda dengan rombongannya.

"Kok sepertinya wartawan televisinya lebih banyak ya?" ungkap Jokowi di sela-sela blusukan, Jumat (14/3).

Wartawan yang berada di sekelilingnya awalnya hanya tersenyum. Karena masih penasaran Jokowi akhirnya menanyakan kembali kepada rombongan wartawan.

"Feeling saya ini wartawan televisinya kok ada banyak ya? Memang ada apa sih?," tanya Jokowi.

Wartawan akhirnya buka suara. "Kabarnya bapak mau deklarasi kali. Makanya banyak yang ngikutin. Pada mau liputan detik-detik terakhir blusukan," jelas wartawan.

Jokowi yang mendengar jawaban wartawan hanya tersenyum geli. Bahkan dirinya hanya menggelengkan kepalanya karena masih tidak percaya kalau wartawan televisi lebih banyak yang mengikutinya hari ini.

HAJI BAGI WANITA YANG SEDANG HAIDH Oleh Ad-Daimah Lil IftaAl-Lajnah Pertanyaan Ad-Daimah Lil IftaAl-Lajnah ditanya : Apa

HAJI BAGI WANITA YANG SEDANG HAIDH

Oleh
Ad-Daimah Lil IftaAl-Lajnah

Pertanyaan
Ad-Daimah Lil IftaAl-Lajnah ditanya : Apa hukum wanita muslimah yang haidh dalam hari-hari hajinya, apakah sah hajinya sebab demikian itu ?

Jawaban
Jika seorang wanita haidh dalam hari-hari hajinya maka hendaklah dia melakukan apa yang dilakukan orang-orang yang sedang haji selain thawaf dan sa'i hingga dia suci. Jika dia telah suci dan mandi maka dia thawaf dan sa'i. Jika seorang wanita haidh dan tidak tersisa dari amal-amalan haji selain thawaf wada', maka ketika pulang dia tidak wajib membayar kifarat apa pun karena thawaf wada tidak wajib bagi dia dan hajinya sah. Sebagaimana landasan dasar tersebut adalah.

[a]. Hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas Radhiallahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

"Artinya : Wanita yang nifas dan haidh jika keduanya datang ke miqat maka keduanya mandi dan berihram dan melaksanakan semua manasik haji selain thawaf di Baitullah" [Hadits Riwayat Ahmad dan Abu Dawud]

[b]. Dalam hadits shahih disebutkan riwayat dari Aisyah Radhiallahu 'anha, bahwa dia haidh sebelum melaksanakan manasik umrah, maka Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan kepadanya untuk ihram haji selain thawaf di Baitullah hingga dia suci. Juga diperintahkannya melakukan apa yang dilakukan orang yang haji dan memasukkan ihram kepada umrah.

[c]. Imam Bukhari meriwayatkan hadits Aisyah Radhiallahu 'anha.

"Artinya : Bhawa Shafiyah istri Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam haidh, lalu dia menyampaikan hal itu kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, maka beliau bersabda : 'Apakah dia menahan kita (dari pulang)'. dia berkata : 'Sesungguhnya dia telah thawaf ifadhah'. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : 'Jika demikian maka tidak'". [Hadits Riwayat Bukhari, Muslim dan yang lainnya]

Dalam riwayat lain disebutkan, bahwa 'Aisyah berkata : "Shafiyah haidh setelah thawaf ifadhah. Aku sebutkan haidhnya kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Maka Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Apakah dia menahan (kepulangan) kita ?" Saya berkata : "Wahai Rasulullah, sesungguhnya dia telah thawaf ifadhah di Baitullah kemudian dia haidh setelah ifadhah". Maka Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Karena itu hendaklah dia (ikut) pulang !" [Hadits Riwayat Bukhari, Muslim, dan yang lainnya]

WANITA HAIDH KETIKA IHRAM TIDAK BOLEH SHALAT


Oleh
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Pertanyaan
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Bagaimana shalat dua rakaat ihram bagi wanita yang haidh ?

Jawaban
Wanita yang sedang haidh tidak boleh shalat dua raka'at ihram, bahkan dia ihram dengan tanpa shalat. Sebab shalat haram bagi wanita yang haid. Terlebih shalat dua rakaat ihram hukumnya sunnah menurut jumhur ulama, bahkan sebagian ulama menilainya tidak termasuk sunnah karena tidak terdapat dalil khusus. Sedangkan jumhur yang menilainya sunnah adalah karena berpedoman kepada hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

"Artinya : Allah berfirman : "Shalatlah kamu di lembah yang diberkahi ini dan katakanlah : "Umrah dalam haji" [Hadits Riwayat Ahmad, Bukhari, dan Abu Dawud]

Maksudnya, di lembah al-Atiq dalam haji wada'. Juga terdapat riwayat dari seorang sahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam shalat kemudian ihram. Maka jumhur ulama menyatakan bahwa ihram setelah sunnah, baik shalat wajib atau sunnah. Karena wanita yang haidh dan nifas haram mendirikan shalat, maka keduanya ihram tanpa shalat dan tidak meng-qadha' shalatnya (dua ra'kaat ihram).

HAIDH ATAU NIFAS SETELAH IHRAM

Oleh
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Pertanyaan
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Jika seorang wanita haidh atau nifas setelah ihram, apakah sah jika dia thawaf dia Baitullah, atau apakah yang dia harus lakukan, dan apakah dia wajib thawaf wada.?

Jawaban
Wanita yang nifas atau haidh ketika kedatangannya untuk umrah maka dia hendaknya menunggu sampai suci. Jika telah suci, dia thawaf, sa'i dan memotong rambut, maka sempurnakanlah umrahnya. Tapi jika datangnya haidh atau nifas setelah umrah atau setelah ihram haji pada hari ke 8 Dzulhijjah, maka dia melakukan manasik haji, yaitu wukuf di 'Arafah, mabit di Muzdalifah, melontar tiga jumrah di Mina, dan lain-lain seperti talbiyah dan dzikir. Lalu ketika dia telah suci, dia thawaf dan sa'i untuk hajinya. Namun jika wanita haidh atau nifas setelah thawaf dan sa'i dan sebelum thawaf wada' maka gugur darinya thawaf wada'. Sebab wanita yang haidh atau nifas tidak wajib thawaf wada'.


Disalin dari buku Fatwa-Fatwa Haji dan Umrah oleh Ulama-Ulama Besar Saudi Arabia, penysusun Muhammad bin Abdul Aziz Al-Musnad, terbitan Pustaka Imam Asy-Syafi'i, hal. 130-134, penerjemah H.Asmuni Solihan Zamaksyari Lc]

Baca Artikel Lainnya : BAJU UNTUK UMRAH

 

Photo
 
Many bodies prepared for cremation last week in Kathmandu were of young men from Gongabu, a common stopover for Nepali migrant workers headed overseas. Credit Daniel Berehulak for The New York Times

KATHMANDU, Nepal — When the dense pillar of smoke from cremations by the Bagmati River was thinning late last week, the bodies were all coming from Gongabu, a common stopover for Nepali migrant workers headed overseas, and they were all of young men.

Hindu custom dictates that funeral pyres should be lighted by the oldest son of the deceased, but these men were too young to have sons, so they were burned by their brothers or fathers. Sukla Lal, a maize farmer, made a 14-hour journey by bus to retrieve the body of his 19-year-old son, who had been on his way to the Persian Gulf to work as a laborer.

“He wanted to live in the countryside, but he was compelled to leave by poverty,” Mr. Lal said, gazing ahead steadily as his son’s remains smoldered. “He told me, ‘You can live on your land, and I will come up with money, and we will have a happy family.’ ”

Weeks will pass before the authorities can give a complete accounting of who died in the April 25 earthquake, but it is already clear that Nepal cannot afford the losses. The countryside was largely stripped of its healthy young men even before the quake, as they migrated in great waves — 1,500 a day by some estimates — to work as laborers in India, Malaysia or one of the gulf nations, leaving many small communities populated only by elderly parents, women and children. Economists say that at some times of the year, one-quarter of Nepal’s population is working outside the country.

Under Mr. Michelin’s leadership, which ended when he left the company in 2002, the Michelin Group became the world’s biggest tire maker, establishing a big presence in the United States and other major markets overseas.

Artikel lainnya »